4 Cara Budidaya Belut Lengkap dengan Penjelasannya

Budidaya BelutBudidaya belut saat ini sudah banyak sekali yang memulainya seiring dengan banyaknya permintaan akan belut serta ketersediannya belut di pasar dari hasil penangkapan secara alami sudah semakin sedikit dan cukup sulit.

Belut merupakan sejenis ikan dari anggota suku Synbranchidae yang memiliki nilai ekonomis dan ekologi. Belut ini di masyarakat sudah menjadi salah satu makanan favorit yang bisa dimasak dengan digoreng, dibakar, maupun dimasak dengan asam saus pedas.

Bahkan saat ini belut juga bisa menjadi makanan ringan atau di goreng sampai renyah. Dan secara ekologi, belut ini bisa dijadikan indikator pencemaran lingkungan disebabkan hewan ini mudah beradaptasi.

Jika lingkungan tersebut sulit ditemuinya belut, itu menandakan bahwa lingkungan tersebut sudah rusak, dan mungkin rusaknya lingkungan tersebut sangatlah parah.

Belut merupakan salah satu jenis predator yang cukup ganas di lingkungan sawah maupun di lingkungan rawa-rawa. Mereka biasa memakan krustasea, cacing, ikan-ikan kecil, dan lain sebagainya.

Belut juga merupakan salah satu hewan yang aktif pada malam hari. Belut ini bisa mengambil oksigen langsung dari udara dan juga mampu bertahan hidup berbulan-bulan tanpa adanya air, asalkan lingkungan yang dia tempati tetaplah basah.

Namun di Indonesia sendiri, belut yang umum dikenal terdapat dua jenis yaitu belut sawah dan belut rawa. Kedua jenis belut ini mempunyai perbedaan, dan perbedaan dari kedua jenis belut ini terdapat pada bagian postur tubuhnya.

Postur tubuh belut sawah lebih pendek dan gemuk, sedangkan belut rawa atau belut sungai mempunyai postur tubuh lebih panjang dan lebih ramping daripada belut sawah.

Dikarenakan banyaknya permintaan di pasar akan belut dan penangkapan secara alami sudah semakin sedikit, kali ini akan membahas cara budidaya belut dengan menggunakan beberapa media yang mudah untuk dilakukan.

1. Budidaya Belut dengan Media Terpal

budidaya belut media kolam terpal

Dalam membudidayakan belut dengan media terpal ini terdapat tiga tahapan yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah penebaran benih, media yang diperlukan, dan pemberian makanan.

a. Penebaran Benih

  1. Biasanya benih untuk budidaya belut yang ditebar di dalam kolam terpal mempunyai ukuran panjang sekitar 12-15 cm sebanyak 25 ekor/m² atau mempunyai berat sekitar 1-1,5 kg/m² dari luas kolam budidaya belut.
  2. Untuk mengurangi atau menghindari terjadinya angka kematian yang cukup tinggi, Anda perlu memperhatikan beberapa hal di bawah ini:
  3. Bibit atau benih belut untuk budidaya sebaiknya masih dalam keadaan sehat, tidak sakit, agresif, gesit, serta mempunyai ukuran yang rata-rata sama. Hal itu untuk menghindari dari persaingan dalam memanfaatkan makanan.
  4. Ketika akan memasukkan benih ke dalam media, sebaiknya pelan-pelan dan sedikit demi sedikit belut keluar dengan sendirinya. Belut jangan dibenamkan ke dalam air media secara paksa. Biarkan mereka membuat lubang sendiri, dan jika terjadi seperti itu menandakan belut cocok dengan media yang digunakan.
  5. Untuk pembesaran benih atau bibit belut, sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari atau sore hari sebelum jam 09.00 pagi atau setelah jam 15.00 sore. Karena pada waktu itu intensitas cahaya matahari masih ada atau bahkan sudah berkurang.
  6. Ada pembudidaya yang berani menebar belut pada waktu siang hari setelah bibit diistirahatkan kurang lebih selama 30 menit dan diberi air serta larutan gula.
  7. Jika media sudah diisi dengan benih atau bibit belut, jangan diaduk-aduk kembali. Karena hal tersebut bisa menyebabkan bibit atau benih belut menjadi stress dan bahkan bisa menyebabkan kematian.

b. Media Budidaya Belut

Untuk budidaya belut ini, media yang dilakukan dengan menggunakan kolam terpal cukup berbeda dengan budidaya ikan, karena di dalam media kolam terpal ini harus terdapat bahan organik sebagai tempat untuk membenamkan diri bagi belut.

Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan pembuatan media kolam terpal ini, yaitu:

  1. Media kolam terpal ini membutuhkan bahan organik berupa tanah dan kedebog pisang. Dikarenakan bahan organik tersebut lebih berat dari volume air yang ada di dalam kolam terpal, maka penyangga untuk kolam terpal haruslah sangat kuat supaya tidak jebol.
  2. Sebelum benih dilepas, usahakan media yang digunakan benar-benar sudah siap. Dan apabila media masih dalam proses pematangan  dengan ditandainya suhu bahan organik masih tinggi, hal tersebut dapat mengganggu kehidupan belut.
  3. Diusahakan sebisa mungkin untuk menghindari terjadinya kebocoran pada kolam terpal yang mungkin diakibatkan oleh tikus yang menggigiti atau menggerogoti kolam terpal. Karena kebocoran bisa mengakibatkan media mongering dan membahayakan kehidupan belut.

c. Pemberian Pakan Belut

Pemberian makan ini terdapat dua jenis yaitu alami dari tanah humus pada awal pemberian di kolam terpal serta pemberian pakan secara manual dari kita sebagai pembudidaya.

Tanah humus adalah salah satu sumber makanan yang sangat baik baik belut, karena kandungan yang terdpat di dalam tanah humus tersebut terdapat hewan renik seperti makrobenthos, siput, larva nyamuk, cacing, kerang dan lain sebaginya.

Namun untuk pemberian makanan secara menual dari pembudidaya belut, perhitungan takaran pangan belut dilakukan dengan cara menghitung presentase berat awal jumlah keseluruhan belut yang dibudidayakan.

Dalam pemberian pakan, takaran yang diberikan haruslah semakin meningkat mulai dari 5-20%. Dan untuk pemberian pakan demi pertumbuhan belut dilakukan setiap hari 2-3 kali. Pemberian pakan ini dilakukan  pada saat pagi hari dan sore hari.

Dan tentunya dalam memberikan pakan kepada belut harus memberikan rasa nyaman. Karena dengan memberikan rasa nyaman dalam pemberian pakan, bisa mempengaruhi nafsu makannya sehingga belut mampu makan secara optimal.

Berikut ini terdapat beberapa cara pemberian pakan kepada belut:

  1. Sebelum bibit belut di lepas, beberapa hari sebelumnya pada media untuk budidaya belut sebaiknya dimasukkan atau dicampurkan dengan pakan alami seperti keong, kepiting sawah, bekicot yang sudah direbus terlebih dahulu.
  2. Hal tersebut bertujuan untuk supaya pakan alami tersebut tercampur dengan media budidaya belut sehingga mikroganisme yang dibutuhkan oleh belut bisa tumbuh dengan baik.
  3. Makanan hidup yang diberikan kepada belut berupa ikan-ikan kecil atau kecebong, dan selain itu juga perlu memperhatikan kondisi ketinggian air jangan sampai terlalu tinggi. Karena belut akan kesulitan untuk memakannya atau menangkapnya.
  4. Pakan cacing yang diberikan kepada belut, dikondisikan agar cacing tersebut mampu hidup pada media budidaya supaya belut bisa memakannya.
  5. Selain pakan binatang hidup, binatang mati pun juga bisa untuk konsumsi belut sebagai makanan alternative. Akan tetapi haruslah sesuai takaran dan harus direbus terlebih dahulu supaya bisa bertahan lama serta tidak menimbulkan busuk pada air media budidaya.

Pemberian pakan pembesaran belut selama 4 bulan untuk 10 kg belut:

  1. Dari awal penebaran sampai berumur 30 hari, presentase konsumsi yang diberikan sebesar 5%, dan berat pakan yang diberikan sebesar 0,5 kg/hari. Jadi jumlah pemberian pakan 30 x 0,5 = 15 kg.
  2. Setelah 60 hari, presentase pakan untuk belut sebesar 15%, berat untuk pakannya sebesar 1 kg/hari. Jadi jumlah pemberian pakan 60 x 1 : 2 = 30 kg.
  3. Setelah 90 hari presentase pakan yang diberikan sebesar 15%, berat pakan tersebut 1,5 kg/hari. Jumlah permberian pakan 90 x 1,5 : 3 = 45 kg.
  4. Setelah umur mencapai 120 hari, presentase konsumsi yang diberikan mencapai 20% dengan berat pakan atau konsumsi yang diberikan sebesar 2 kg/hari. Jadi jumlah konsumsi pakan tersebut 120 x 2 : 4 = 60 kg.

2. Budidaya Belut dengan Media Kolam Tembok

budidaya belut media kolam tembok

Cara membudidayakan belut dengan media kolam tembok ini hampir sama dengan menggunakan media kolam terpal, hanya saja terdapat beberapa perbedaan. Nah langsung saja kita bahas cara membudidayakan belut dengan media kolam tembok ini.

a. Pemilihan Benih Belut untuk Dibudidayakan

Pemilihan benih untuk budidaya ada 2 macam. Pertama yaitu benih yang berasal dari tangkapan di sawah, sungai atau rawa-rawa. Kedua yaitu benih dari hasil budidaya. Kedua jenis benih ini mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kekurangan dari benih tangkapan, yaitu ukuran untuk dibudidayakan tidak sama dan kemungkinan aka nada trauma pada saat pertama kali penangkapan. Akan tetapi dari hasil tangkapan alam ini mempunyai kualitas rasa yang gurih, dan harga jualnyapun lebih tinggi.

Berbeda dengan benih dari hasil budidaya. Benih hasil budidaya mempunyai nilai jual lebih rendah dari pada hasil tangkapan di alam. Namun jenis benih ini mempunyai banyak kelebihan yang diantaranya adalah:

  1. Mempunyai ukuran benih yang sama atau seragam.
  2. Adanya ketersediaan jumlah benih yang cukup banyak.
  3. Konstinuitasnya terjamin.
  4. Mempunyai daya tumbuh yang relaif seragam karena berasal dari induk yang sama.

b. Kriteria Benih untuk Menghasilkan Belut yang Berkualitas

Untuk menghasilkan hasil budidaya yang bagus dan berkualitas, Anda perlu memperhatikan kriteria benih seperti beberapa hal berikut ini:

  1. Diusahakan untuk benih budidaya, mempunyai ukuran yang sama, sehingga bisa menekan resiko terjadinya kanibalisme atau saling memangsa satu sama lain.
  2. Benih yang dipilih tentunya juga bergerak dengan lincah dan aktif ataupun agresif.
  3. Benih bebas dari penyakit maupun cacat.
  4. Panjang ukuran sekitar 10-12 cm. untuk benih yang seperti ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan sampai siap untuk dikonsumsi. Dan yang untuk diekspor, pemeliharaannya bisa mencapai 6 bulan lamanya.

c. Persiapan untuk Media Kolam Budidaya Belut

Jika mempunyai kolam tembok yang baru saja dibuat, untuk lebih baiknya mengeringkan kolam selama beberapa minggu.

Setelah mengering lakukanlah perendaman terhadap kolam dengan memberikan air dan beberapa tambahan lainnya seperti daun pisang, pelepah pisang, atau sabut kelapa.

Selain itu, perlu juga untuk memperhatikan kondisi kolam. Jika kolam masih terdapat bau semen, usahakan untuk menghilangkannya terlebih dahulu.

Untuk budidaya belut dengan media kolam tembok ini mempunyai beberapa kelebihan yaitu relatif lebih tahan lama dan kuat sekitar lima tahunan.

Luas dan bnetuk kolam tembok ini bisa disesuaikan dengan lahan yang Anda miliki. Sedangkan untuk ketinggian kolamnya sekitar 1-1,5 m.

Kolam tembok ini juga harus disertai dengan adanya lubang pengeluaran yang berfungsi untuk penggantian media tumbuh. Lubang ini bisa terbuat dari pipa yang cukup besar.

d. Pembuatan Media Tumbuh untuk Pembudidayaan Belut

Dalam pembuatan media tumbuh untuk belut terdapat beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan. Perhatikan langkah-langkah berikut ini:

1. Pertama adalah membersihkan kolam terlebih dahulu, kemudian keringkan.

2. Kolam yang sudah kering isi dengan bahan-bahan berikut secara berlapis. Berikut ini urutan dari dasar kolam:

  • Lapisan paling dasar, masukkan jerami yang sudah dipotong-potong dengan ketebalan sekitar 20 cm.
  • Lapisan kedua, masukkan juga pelepah pisang yang telah dipotong-potong dengan ketebalan sekitar 6 cm.
  • Lapisan ketiga, campurkan pupuk kandang dari kotoran sapi atau kerbau, tanah humus dan kompos setebal 20-25 cm. campuran tersebut berfungsi untuk memicu tumbuhnya biota sebagai penyedia makanan alami bagi benih-benih belut yang akan dibudidayakan.
  • Lapisan keempat, siram lapisan tersebut dengan cairan mikroba decomposer atau biovaktor, misalnya larutan EM4.
  • *Lapisan kelima, masukkan lumpur sawah atau bisa juga lumpur rawa atau sungai dengan ketebalan sekitar 10-15 cm. diamkan lapisan tersebut kurang lebih selama 1-2 minggu supaya terfermentasi secara sempurna.
  • Lapisan terakhir, genangi ,edia tumbuh dengan air dengan kedalaman sekitar 5 cm. Anda juga bisa memberikan tanaman enceng gondok pada kolam tersebut dengan catatan tidak terlalu padat. Cukup memberikan setengah dari luas kolam yang Anda miliki.

3. Bibit siap untuk dilepas atau ditebarkan.

*Catatan: jika media tumbuh di atas telah berfermentasi, alirkan air bersih selama 3-4 hari untuk membersihkan dari racun yang masih ada di dalam media tumbuh tersebut. Selain itu hindarilah penyetingan air yang cukup deras, karena bisa mengakibatkan terjadinya erosi pada media tumbuh.

e. Penebaran Benih dan Pengaturan Air

Penebaran benih belut dalam satu kolam presentasenya sekitar 50-100 ekor/m². Pada saat penebaran benih belut sebaiknya dilakukan pada waktu pagi atau sore hari.

Untuk benih dari hasil tangkapan alami dianjurkan untuk melakukan karantina terlebih dahulu selama 1-2 hari dalam air yang bersih dan mengalir. Makanannya berupa kocokan telur.

Jika benih belut sudah dilepas atau ditebar, selalu perhatikan sirkulasi dan debit air yang masuk kedalam kolam. Dan usahakan debit air yang masuk ke dalam kolam tidaklah terlalu deras.

Selain itu, untuk ketinggian air jangan terlalu tinggi. Karena bisa membuat belut menjadi lebih kurus diakibatkan belut lebih banyak bergerak untuk mencari oksigen.

f. Pemberian Pakan dalam Membudidayakan Belut

Dalam pemberian makanan kepada belut diusahakan selalu rutin dan jangan sampai terlambat, supaya tidak berakibat fatal nantinya.

Berikut ini merupakan takaran pakan untuk belut sesuai dengan umurnya untuk populasi belut 10 kg:

  1. Sediakanlah sekitar 0,5 kg pakan untuk belut yang berumur 1 bulan.
  2. Untuk belut yang berumur 1-2 bulan, sediakan pakan sekitar 1 kg.
  3. Belut yang sudah berumur 2-3 bulan, sediakan sekitar 1,5 kg pakan.
  4. Belut yang sudah berumur 3-4 bulan, sediakan pakan sekitar 2 kg.

Pakan untuk budidaya belut ini terdapat dua macam jenis yang diantaranya adalah pakan yang sudah mati dan pakan yang masih hidup.

Pakan yang sudah mati ini contohnya bangkai ayam, ikan rucah, pellet, cincangan bekicot atau cincangan kepiting.

Dan jika Anda memilih pakan yang sudah mati tersebut alangkah lebih baiknya Anda untuk merebus terlebih dahulu. Frekuensi pemberian pakan bisa 1-2 hari sekali.

Kemudian pakan belut yang masih hidup ini diantaranya adalah cacing, kecebong, larva ikan dan larva serangga. Dan diusahakan masih dalam bentuk larva (masih kecil).

Sedangkan pakan untuk belut yang sudah dewasa, Anda bisa memberikannya berupa katak, kepiting, ikan, bekicot, serangga, dan keong sebagai pakannya.

Dalam memberikan pakan, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemberian pakan akan sangat efektif dan optimal bagi belut ketika sore hari atau malam hari. Karena belut juga merupakan salah satu hewan yang sangat aktif mencari makan pada malam hari atau sore hari.

g. Pemanenan Belut

Umumnya di pasaran domestik, konsumen membutuhkan belut yang berumur sekitar 3-4 bulan. Sedangkan untuk pasar ekspor berumur sekitar 3-6 bulan lebih.

Dalam memanen belut Anda bisa melakukannya secara total maupun sebagiannya saja. Pemanenan sebagian ini dilakukan untuk mengambil belut yang masih kecil kemudian dipisahkan dan dipelihara kembali.

Sedangkan pemanenan total, dilakukan pada budidaya belut efektif, yang mana pemberian pakan dan metode budidayanya dilakukan dengan sangat cermat, sehingga belut yang dipelihara bisa tumbuh dengan ukuran yang hampir sama rata.

3. Budidaya Belut dengan Media Drum

budidaya belut media drum

www.satujam.com

Budidaya belut yang satu ini menggunakan media drum sebagai pengembangbiakan dan pertumbuhannya. Berikut ini langkah-langkah yang harus dilakukan untuk budidaya belut dengan menggunakan media drum:

a. Membuat Kolam dari Drum

Tentunya langkah awal untuk membudidayakan belut dengan media drum, Anda harus membuat kolamnya dengan menggunakan drum bekas maupun yang masih baru.

Berikut ini langkah-langkah pembuatan kolam dari drum:

  1. Bersihkan drum terlebih dahulu terutama pada bagian yang dalam hingga benar-benar bersih.
  2. Buatlah lubang memanjang pada bagian salah satu sisi drum.
  3. Kemudian simpanlah atau letakkan drum pada bidang tanah yang datar dan letakkan pengganjal pada bagian sisi kanan dan kiri drum.
  4. Selanjutnya pada bagian bawah drum, buatlah lubang sebagai saluran pembuangan.
  5. Tahapan yang terakhir adalah berikan teduhan pada bagian atas drum supaya belut tidak kepanasan.

b. Menyiapkan Media untuk Tumbuh Belut

Media yang digunakan untuk tumbuh belut seperti pembahasan sebelumnya, yaitu berupa jerami, pupuk kompos, pupuk TSP, lumpur dan mikroganisme starter.

Berikut ini bagaimana cara membuat media tumbuh bagi belut di dalam drum:

  1. Masukkan lapisan jerami pada bagian dasar drum dengan ukuran sekitar 50 cm.
  2. Siram jerami tersebut dengan 1 liter mikroganisme starter.
  3. Lapisi pada bagian atas jerami dengan menggunakan pupuk kandang atau pupuk kompos dengan ketebalan sekitar 7 cm.
  4. Lapisan berikutnya yaitu masukkan lumpur yang sudah dicampur dengan pupuk TSP kurang lebih sebanyak 5 kg, dengan tebal sekitar 25 cm.
  5. Tahapan terakhir adalah memberikan atau memasukkan air bersih ke dalam drum setinggi 17 cm, dan diamkan kurang lebih selama 2 minggu supaya media mengalami fermentasi.

c. Pemilihan Benih atau Bibit Belut

Pemilihan bibit atau benih pada budidaya dengan media drum ini sama halnya pembahasan yang sebelumnya, yaitu ukuran untuk benih belut ini diusahakan sama atau seragam untuk menghindari saling memangsa satu sama lain.

Selain itu bibit atau benih juga harus ditandai dengan gerakan yang lincah, aktif, agresif, dan tidak lemes. Dan dipastikan juga benih atau bibit belut tidak terdapat cacat atau terserang penyakit. Ukurannya berkisar antara 10-12 cm.

d. Pemberian Pakan Belut

Dalam pemberian pakan kepada belut ini lebih efektif dan lebih optimal pada waktu sore menjelang malam dan pada waktu malam hari. Karena belut biasanya aktif mencari makan pada waktu malam hari.

e. Pemanenan

Dalam satu drum umumnya benih atau bibit belut bisa masuk sebanyak 2 kg dengan ukuran benih atau bibit belut sekitar 11-13 cm. Dan biasanya untuk pemanenan belut ini bisa dilakukan setelah berumur 3-4 bulan.

4. Budidaya Belut dengan Media Air Bersih

One Response

  1. Ketikanku Februari 15, 2017

Leave a Reply