Pengertian Puisi, Unsur dan Struktur Puisi, Jenis-jenis Puisi, Perbedaan Puisi

Puisi – Puisi adalah seni yang tertulis dimana bahasa yang digunakan sebagai kualitas estetiknya untuk tambahan atau selain arti semantiknya. Pengulangan dalam puisi digunakan dengan sengaja dan penekanan pada segi estetik suatu bangsa.

Dan yang membedakan antara puisi dan prosa adalah dilihat dari meter dan rimanya. Akan tetapi perbedaan tersebut masih diperdebatkan. Bagi pandangan orang yang masih baru atau baru mengenal biasanya membedakan puisi dan prosa dilihat dari jumlah huruf dan kalimat.

Jika dibedakan antara puisi dan prosa, puisilebih singkat dan padat. Sedangkan prosa lebih mengalir seperti mengekspresikan atau mengutarakan cerita. Jadi memang ada perbedaan antara puisi dan prosa tersebut.

Menurut definsi beberapa ahli modern, mereka memiliki pendekatan bahwa puisi tidak sebagai jenis literature tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia yang segala kreativitasnya merupakan sumbernya.

Puisi juga sebenarnya adalah isi curahan hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan suasanya hatinya.

Nah dalam sebuah puisi, baris-baris yang dibuat bisa berbentuk apa saja seperti: melingkar, zigzag, dan lain-lainnya. Dengan cara tersebut merupakan salah satu cara pengarang atau penulis untuk menunjukan pemikirannya.

Kadang-kadang puisi hanya berisi satu kata atau suku kata yang berulang-ulang. Bagi para pembaca hal itu  mungkin bisa membuat puisi tersebut tidak bisa dimengerti. Akan tetapi segala keanehan dan yang diciptakan oleh para penulis mempunyai sebuah alasan.

Menciptakan sebuah puisi oleh para penulis atau pengarang tidak ada yang membatasi keinginannya untuk menciptakan puisi yang diinginkannya. Ada beberapa perbedaan antara puisi lama dan puisi baru.

Dalam beberapa kasus yang pernah terjadi mengenai puisi mdern atau puisi cyber akhir-akhir ini semakin memprihatinkanjika dilihat dari isi pokok dan kaidah dalam puisi itu sendiri, yaitu pemadatan kata.

Kebanyakan para penyair atau pengarang yang aktif saat ini baik yang pemula maupun yang bukan pun lebih mementingkan atau mengutamakan gaya bahasa dan tidak mementingkan atau mengutamakan isi pokok puisi tersebut.

Agar puisi menjadi semakin indah, di dalam puisi juga bisa diberikan atau disisipkan majas. Majas pun juga terdapat beberapa macam, salah satunya adalah “sarkasme” yang artinya sindiran langsung dengan kasar.

Ada Beberapa yang Harus Diperhatikan Dalam Membaca Puisi:

  • Ketepatan Ekspresi atau mimik wajah. Ekspresi ini merupakan menyatakan hasil penjiwaan puisi. Sedangkan mimik adalah ekspresi muka atau gerak air muka.
  • Gerak anggota tubuh atau bisa disebut dengan kinesik
  • Artikulasi Artikulasi adalah ketepatan dalam melafalkan kata-kata.
  • Timbre yaitu warna bunyi suara (bawaan) yang dimilikinya
  • Dinamika artinya keras lembut, tinggi rendahnya suara
  • Intonasi atau lagu suara

Dalam membaca puisi, ada tiga jenis intonasi sebagai berikut:

  1. Tekanan dinamik adalah tekanan pada kata-kata yang dianggap penting.
  2. Tekanan nada yaitu tekanan tinggi rendahnya suara. Misalnya suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, takjub, dan lain sebagainya.
  3. Tekanan tempo adalah cepat lambat dalam pengucapan suku kata atau kata.

Unsur unsur puisi

www.majalahdia.net

www.majalahdia.net

Dalam sebuah puisi tentu terdapat sebuah unsur-unsurnya. Unsur-unsur tersebut meliputi stuktur fisik dan stuktur batin puisi. Berikut penjelasan dari stuktur fisik dan stuktur batin puisi.

Stuktur Fisik Puisi

  • Tipografi (Perwajahan puisi) adalah bantuk sebuah puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi dengan kata-kata seperti pengatutan barisannya, tepi kanan-kiri, sampai baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf capital dan di akhiri dengan tanda titik.
  • Diksi adalah pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair atau yang membawakan puisi dalam puisinya. Sebab puisi merupakan bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata bisa mengungkapkan banyak hal sesuatu. Maka sangat perlu dalam memilih sebuah kata-kata. Dalam pemilihan kata-kata puisi harus erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata.
  • Imaji adalah susunan kata-kata atau kata yang bisa mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti halnya penglihatan, perasaan, dan pendengaran. Imaji dapat dibagi menjadi tiga,yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (taktil). Imaji bisa menyebabkan pembaca seakan-akan mendengar, merasakan, dan melihat seperti apa yang dialami penyair.
  • Kata Konkret, merupakan kata yang bisa diserap atau ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata tersebut berhubungan dengan kiasan atau lambang. Contohnya kata konkret “salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dan lain sebagainya.
  • Gaya bahasa adalah penggunaan bahasa yang bisa menghidupkan atau meningkatkan efek dan menonjolkan konotasi tertentu. Bahasa figuratif mengakibatkan puisi menjadi prismatic yang artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna. Dan majas juga merupakan salah satu gaya bahasa dalam sebuah puisi.
  • Rima atau Irama merupakan persamaan bunyi atau suara pada puisi baik di awal, tengah, dan akhir baris pada sebuah puisi.

Adapun Macam-macam Majas antara lain:

  1. Majas Metafora
  2. Majas Simile
  3. Majas Personifikasi
  4. Majas Litotes
  5. Majas Alusio
  6. Majas Klimaks
  7. Majas Antiklimaks
  8. Majas Satire
  9. Majas Pars Pro Toto
  10. Majas Totem
  11. Majas Pro Parte
  12. Majas Paradoks

Adapun Rima yang Mencakup antara lain:

  1. Onomatope (tiruan terhadap bunyi, contohnya “ng” yang memberikan efek magis pada sebuah puisi Sutadji C.B)
  2. Bentuk intern pola bunyi atau suara (aliterasi, asonansi, persamaan awal, persamaan akhir, sajak berparuh, sajak berselang, sajak penuh, repitisi bunyi (kata), dan sebagainya.
  3. Ungkapan atau pengulangan kata. Ritme adalah tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Dalam pembacaan sebuah puisi, rimanya itu harus sangat menonjol.

Struktur Batin puisi

  • Tema atau Makna (sense); bahasa merupakan media puisi. Tataran bahasa merupakan hubungan tanda dengan makna, makna puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, ataupun makna keseluruhan.
  • Rasa (feeling) adalah sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam sebuah puisi. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, contohnya latar belakang kedudukan dalam masyarakat, pendidikan, jenis kelamin, agama, kelas sosial, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya.
  • Nada (tone) yaitu sikap penyair oleh pembaca. Tema dan rasa juga berhubungan dengan nada. Penyair bisa menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerjasama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan merendahkan pembaca, dll.
  • Amanat atau tujuan serta maksud (intention) merupakan pesan yang ingin disamapaikan penyair kepada para pembaca.

 

Jenis-jenis Puisi

mariberbagi-ilmu2.blogspot.com

mariberbagi-ilmu2.blogspot.com

Seiring berjalannya waktu, sampai sekarang puisi dibedakan menjadi dua tipe. Dan menurut zamannya puisi dibagi atau dibedakan atas puisi lama dan puisi bari. Apa itu puisi lama dan puisi baru? Simak berikut ini.

Puisi Lama

Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan tersebut antara lain adalah:

  • Jumlah kata dalam satu baris
  • Jumlah baris dalam satu bait
  • Persajakan atau rima
  • Banyaknya suku kata dalam setiap baris
  • Kemudian irama

Adapun ciri-ciri puisi lama:

  • Nama pengarangnya tidak dikenal karena merupakan sebuah puisi rakyat.
  • Selain sebuah sastra lisan, puisi lama disampaikan dari mulut ke mulut.
  • Sangat terikat dengan jumlah suku kata atupun rima dan sangat terikat juga dengan aturan-aturan seperti jumlah baris tiap baitnya.

Jenis-jenis Puisi Lama

1. Mantra

Mantra merupakan perkataan-perkataan atau ucapan-ucapan yang dikira mempunyai kekuatan ghaib.

Contoh:

Assalamu’alaikum putri satulung besar

Yang beralun berilir simayang

Mari kecil, kemari

Aku menyanggul rambutmu

Aku membawa sadap gading

Akan membasuh mukamu 

2. Pantun

Pantun merupakan sebuah puisi yang mempunyai ciri bersajak a-b-a-b, setiap bait terdiri dari 4 baris, setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, 2 baris pertama sebagai sampiran, 2 baris berikutnya sebagai isi. Pembagian pantun menurut sisinya teridiri dari pantun jenaka, teka-teki, anak, muda-mudi, dan agama atau nasihat.

Contohnya:

Kalau ada jarum patah

Jangan dimasukkan ke dalam peti

Kalau ada kataku yang salah

Jangan dimasukkan ke dalam hati

3. Karmina

Karmina merupakan sebuah pantun kilat seperti halnya pantun namun pendek.

Contoh:

Dahulu parang sekarang besi (a)

Dahulu sayang sekarang benci (a)

4. Seloka

Seloka adalah pantun yang berkait

Contohnya:

Lurus jalan ke Payakumbuh,

Kayu jati bertimbal jalan

Di mana hati tak kan rusuh,

Ibu mati bapak berjalan

5. Gurindam

Gurindam adalah puisi yang setiap bait terdiri dari 2 baris, bersajak a-a-a-a, dan berisikan sebuah nasihat.

Contoh:

Kurang pikir kurang siasat (a)

Tentu dirimu akan tersesat (a)

Barangsiapa tinggalkan sembahyang (b)

Bagai rumah tiada bertiang (b)

Jika suami tiada berhati lurus (c)

Istri pun kelak menjadi kurus (c)

6. Syair 

Syair adalah sebuah puisi yang berasal atau bersumber dari Arab dengan memiliki sebuah ciri yaitu setiap bait terdiri dari 4 baris, bersajak a-a-a-a, dan berisikan cerita atau sebuah nasihat.

Contohnya:

Pada zaman dahulu kala (a)

Tersebutlah sebuah cerita (a)

Sebuah negeri yang aman sentosa (a)

Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)

7. Talibun

Talibun merupakan sebuah pantun genap yang setiap baitnya terdiri dari 6,8, atau 10 baris.

Contoh:

Kalau anak pergi ke pekan

Yu beli belanak pun beli sampiran

Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan

Ibu cari sanak pun cari isi

Induk semang cari dahulu

Pusis Baru

Dalam pusis baru bentuk dari puisi baru ini lebih bebas disbanding dengan puisi lama baik itu dari segi suku kata, jumlah baris, dan rimanya.

Adapun ciri-ciri puisi baru diantaranya yaitu:

  • Mempunyai persajakan akhir yang teratur
  • Bentuknya simetris dan rapi
  • Sebagian besar puisi empat seuntai
  • Puisi baru banyak menggunakan pola bersajak pantun dan syair walaupun ada pola yang lainnya
  • Setiap barisnya atas sebuah gatra atau kesatuan sintaksis
  • Setiap gatranya terdiri atas dua kata yang sebagian besar 4 sampai 5 suku kata.

Jenis-jenis puisi baru menurut isinya terdapat beberapa perbedaan yang dibedakan berdasarkan:

1. Balada

Jenis puisi ini berisikan tentang sebuah cerita atau kisah. Puisi jenis ini terdiri dari 3 bait yang setiap baitnya terdiri dari 8 larik dengan skema rima a-b-ab-b-c-c-b. selanjutnya skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. dalam bait yang pertama larik terakhirnya digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Salah satu contohnya adalah puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak”.

2. Himne

Puisi ini adalah puisi pujaan yang ditujukan seperti untuk Tuhan, Pahalawan, atau Tanah Air. Ciri-ciri dari puisi ini adalah lagu puji-pujian sebagai penghormatan kepada seorang pahlawan, tanah air, dewa, Tuhan, atau almamater (Pemamdu di Dunia Sastra).

Saat ini puisi jenis himne berkembang menjadi sebuah puisi yang dinyanyikan yang di dalam puisi tersebut terdapat puji-pujian terhadap sesuatu yang dihormati.

Contoh:

Bahkan batu-batu yang keras dan bisu

Mengagungkan nama-Mu dengan cara sendiri

Menggeliat derita pada lekuk dan liku

bawah sayatan khianat dan dusta.

Dengan hikmat selalu kupandang patung-Mu

menitikkan darah dari tangan dan kaki

dari mahkota duri dan membulan paku

Yang dikarati oleh dosa manusia.

Tanpa luka-luka yang lebar terbuka

dunia kehilangan sumber kasih

Besarlah mereka yang dalam nestapa

mengenal-Mu tersalib di datam hati.

(Saini S.K)

3. Ode

Ode merupakan sebuah puisi yang berisikan sebuah sanjungan kepada seseorang yang berjasa. Gaya dan nadanya sangatlah resmi, bernada anggun, membahas seuatu yang mulia, dan bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.

Contoh:

Generasi Sekarang

Di atas puncak gunung fantasi

Berdiri aku, dan dari sana

Mandang ke bawah, ke tempat berjuang

Generasi sekarang di panjang masa

Menciptakan kemegahan baru

Pantun keindahan Indonesia

Yang jadi kenang-kenangan

Pada zaman dalam dunia

(Asmara Hadi)

4. Epigram

Puisi epigram ini berisikan tentang tuntunan atau ajaran hidup. Kata epigram ini berasal dari Bahasa Yunani “Epigramma” yang memiliki arti unsur pengajaran, diktatik, nasihat yang membawa kea rah kebenaran untuk dijadikan pedoman, teladan, dan ikhtibar.

Contonya:

Hari ini tak ada tempat berdiri

Sikap lamban berarti mati

Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan

Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.

(Iqbal)

5. Romansa

Puisi jenis ini merupakan puisi yang berisikan tentang luapan perasaan cinta kasih. Kata Romansa berasal dari bahasa Perancs yang mempunyai arti keindahan perasaan, persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra.

6. Elegi

Puisi elegi merupakan puisi yang berisikan ratapan tangisan atau kesedihan. Berisikan sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka tau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian atau kepergian seseorang.

Contoh:

Senja di Pelabuhan Kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

(Chairil Anwar)

7. Satire

Puisi jenis satire ini mempunyai isi puisi tentang sindiran atau kritikan. Kata satire berasal dari bahasa Latin “Satura” yang berarti sindiran, tidak puas hati satu golongan, kecaman tajam terhadap sesuatu.

Contoh:

Aku bertanya

tetapi pertanyaan-pertanyaanku

membentur jidat penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi

di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,

termangu-mangu dl kaki dewi kesenian.

(WS Rendra)

Leave a Reply