Enaknya Ketika Menjadi Santri

Mungkin banyak orang beranggapan kalau pesantren itu tidak enak. Itu anggapan sebagaian orang yang hanya memikirkan kebebasan saja. Tapi sebagian yang lain beranggapan kalau pesantren itu banyak mendapatkan ilmu dan pengalaman-pengalaman yang tidak terjadi di luar pesantren.

Alhamdulillah aku bisa menjadi bagian dari Pondok Pesantren Daarut Tauhiid yang terdapat di Ciputat,Tangerang Selatan. Banyak cerita yang bisa aku luapkan. Tapi sebagian aja ya? jangan banyak-banyak. Capek nulisnya, apalagi ngerangkai ceritanya agar menarik. Menarik apa ni? Yang jelas menarik perhatian publik lah, ya nggak?

Ketika itu pondokku masih dalam tahap pembangunan. Seperti bangun asrama, bangun jalan, membersihkan samping empang, meratakan tanah, dsb.

Ketika membangun asrama yang sekarang dipakai oleh perempuan itu dulu aku ikut serta, bukan hanya aku saja yang ikut serta, teman-temanku yang lain juga ikut serta semua, biar cepet selesai. Kami bekerja dengan semangat, walaupun akhir-akhirnya juga pada loyo, namanya juga kerja berat. Dalam bekerja mengecor asrama, aku dan teman-temanku saling bahu membahu. Agar dalam bekerjanya lebih berkualitas dan cepet selesai.

Dalam beberapa hari, mengecor lantai asrama cepet selesai. Tapi kita tidak membantu ngecor ketika hari aktif sekolah, melainkan di hari libur sekolah aja. Karena hari aktif belajar pastinya kita semua belajar di sekolah.

Selain membangun asrama, kita juga pernah meratakan tanah yang terdapat di lapangan yang dulu kami pakai bermain sepak bola. Ketika meratakan tanah itu aku sama temen-temen ketika pada hari libur panjang. Ketika libur panjang sebagian dari santrinya tidak pulang dan dimintai tolong untuk meratakan lapangan yang seper empatnya dikeruk buat teras masjid.

Alhamdulillah kami selesai meratakan dalam jangka lima hari. Sungguh menyenangkannya waktu itu. Kami berbagai trik cara untuk meratakan tanah tersebut. Dari membagi menjadi beberapa petak-petak, sampai balapan meratakan tanah tersebut. Dan moment yang paling unik itu ketika lagi istirahat, temenku bikin video klip dari lagunya “One Direction” sambil naik gerobak pasir rame-rame. Sungguh gembiranya mereka ketika sebagian santrinya pulang, kita di pesantren membuat kebahagian tersendiri yang tidak terlupakan.

empang

 

Kemudian selain membangun asrama kita juga pernah menangkap ikan di empang atu tambak yang empang tersebut lumayan luas. Aku sama temen-temenku pertama nangkap menggunakan jaring yang lumayan besar juga. Setelah lama menggunakan jarring, kita itu menangkapnya menggunakan tangan di pinggir-pinggir empang yang banyak semak-semaknya. Padahal di empang itu ada ularnya, ada biawaknya. Kita tidak pada takut, melainkan lari. Itu sama saja takut namanya.walaupun nangkapnya pake tangan, kita juga bisa dapet tuh dari pinggir-pinggir empang. Tidak kalah sama jaringnya lah. Termasuk aku juga dong. Gua gitu loh, hehe.

Banyak macam ikan yang ada di empang milik pesantren, mulai dari mujair, ikan patin, bukan patin yang nyanyi itu ya? trus ikan gabus yang paling sulit di tangkap tu. Dan yang sering ketangkap itu ikan sapu-sapu yang akhirnya di buang juga ke sungai deket empang. Walau ikan sapu-sapunya gedenya melebih ikan patin tetep aja di buang. Kasian amat ikan sapu-sapu kayak tidak berguna aja. Sebenarnya sih bisa di olah dengan baik, Cuma tidak ada yang mau.

Setelah dapet banyak kita goreng tu di dapur rame-rame. Lumayan bisa buat lauk tambahan santri, hehe. Tapi aku biasanya kalau goreng ikan kayak gitu biasanya agak keringan, soalnya aku tidak suka ikan yang masih kurang mateng, neg di mulut sama perut, mau muntah rasanya, hehe.

Jadi setiap tempat yang kita tinggali atau sebuah lembaga itu bisa membuat kita menjadi bahagia atau bisa menjadikan kita merana tergantung kita menyikapinya bagaimana. Pasti ada baik dan buruknya, tidak semuanya itu baik semua dan buruk semua. Dan yang pastinya lembaga-lembaga yang baik akan memberikan ilmu kebaikan dan menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya kepada kita semua.

 

Leave a Reply